Sebagaian orang
menganggap bahwa tegaknya khilafah adalah ide yang utopis dan merupakan
khayalan belaka. NamunNational Intelligence Council (NIC)justru sibuk mengerahkan energi dan segenap kemampuannya untuk
melakukan riset mendalam guna menilai sejauh mana possibilitas (kemungkinan)
berdirinya kembali Khilafah itu benar-benar bakal terjadi. Hasil riset itu
kemudian mereka bukukan dalam Mapping The Global Future (MGF), yang diterbitkan
pada Desember 2004.
Dalam riset itu,
intinya NIC memperkirakan ada 4 skenario global yang bakal terjadi pada tahun
2020.
Pertama: disebut
Dunia Davos (Davos World) memberikan gambaran tentang bagaimana kekuatan
ekonomi pada 15 tahun ke depan dapat membentuk proses globalisasi yang lebih
memberikan wajah non-Barat. Dalam skenario ini, raksasa Asia—Cina dan
India—serta negara paling berkembang lain menggeser ekonomi “Barat”, melalui
penguasaan ekonomi domestik dan penguasaan teknologi.
Kedua: disebut Pax Americana. Dalam skenario ini
digambarkan bagaimana dominasi AS dapat terus bertahan menghadapi perubahan
radikal dalam landskap politik global. Washington tetap menjadi pusat dari
poros politik internasional.
Ketiga: A New Chalipate. Dalam skenario ini
digambarkan bagaimana identitas global yang didorong oleh gerakan Islam radikal
bisa muncul. Sebuah Khilafah baru diproklamasikan dan berhasil merebut kembali
wilayah-wilayah seperti Timur Tengah, sebagian Afrika dan Asia, yang memang
telah menjadi bagian dari Khilafah pada masa lalu. Khilafah juga tumbuh menjadi
lawan dari ideologi yang ada.
Keempat: disebut The Cycle of Fear. Skenario ini
menggambarkan tentang kekhawatiran bila proliferasi (pengayaan) WMD (weapon of
mass destruction atau senjata pemusnah massal) terus meningkat. The Cycle of
Fear terjadi ketika perlombaan WMD terus terjadi, dan WMD, melalui tangan
dealer, jatuh ke tangan pihak-pihak yang disebut sebagai para teroris.
Robert L Hutching,
Chairman dari National Intelligence Council (NIC), dalam pengantar dari dokumen
itu mengatakan bahwa pembuatan Mapping The Global Future (MGF) bertujuan untuk
membuka pemikiran (open mind) untuk segala kemungkinan (possibilities) yang
bakal terjadi setelah mengamati kecenderungan-kecenderungan global (global
trends). Dengan begitu AS siap untuk menghadapi segala tantangan yang mungkin
terjadi pada masa depan.
MGF dibuat dengan bersumber pada dua bahan utama,
yakni Global Trends 2010 dan Global Trends 2015, ditambah dengan diskusi dengan
banyak ahli pemerintahan dan non pemerintahan. Global Trends 2010 dibuat pada
1997 dari serangkaian konferensi yang diselenggarakan di Washington DC yang
diikuti oleh sejumlah akademisi dan pengusaha serta sejumlah pakar intelijen.
Global Trends 2015 merupakan studi yang mengidentifikasi 7 perubahan global
penting, yakni demografi, lingkungan dan sumber daya alam, sains dan teknologi,
ekonomi global dan globalisasi, tata kelola nasional dan internasional,
konflik-konflik masa depan dan peran AS. Studi ini disusun pada tahun 2000
dengan melibatkan ribuan orang. Bagian awal didasarkan pada hasil diskusi
antara NIC dan para ahli non pemerintah di AS. Kemudian hasilnya didiskusikan
bersama para ahli dari seluruh dunia dalam serangkaian konferensi regional di 5
benua guna benar-benar mendapat perspektif tentang apa yang bakal terjadi pada
15 tahun ke depan. Kemudian pembahasan difokuskan pada
kecenderungan-kecenderungan kunci (key-global trends) yang bakal berpengaruh di
region tersebut. Diskusi juga diselenggarakan secara on line melalui website
yang telah disiapkan.
Di antara kepastian yang dicatat oleh riset ini
adalah kemunculan potensi kekuatan politik Islam serta tetap bertahannya AS
sebagai kekuatan ekonomi, politik dan militer paling besar di dunia dan
menguatkan kekuatan non negara. Riset juga mencatat berbagai ketidakpastian,
yakni apakah negara lain akan menantang AS secara terbuka, juga sejauh mana
kesediaan negara-negara untuk mengakomodasi kekuatan-kekuatan non negara itu.
Adapun yang dianggap memunculkan ketidakpastian adalah dampak dari semangat
religius (Islam) untuk penyatuan negara-negara, termasuk munculnya idelologi
jihad.
Dalam kesimpulannya, NIC memperkirakan bahwa AS
tetaplah akan menjadi kekuatan dominan yang bakal turut membentuk dunia pada
masa mendatang. Namun, NIC juga memperhitungkan pengaruh Cina dan India sebagai
kekuatan baru. Bila abad 20 adalah abad AS, maka abad 21 menurut mereka adalah
milik Asia, khususnya Cina dan India. Kedua negara itu memiliki jumlah penduduk
sangat besar dan pertumbuhan ekonomi yang terus menanjak. Di luar itu, secara
khusus NIC memperkirakan bahwa Islam politik akan memberikan dampak global yang
makin signifikan menjelang tahun 2020. Karena itu, NIC menyebut Islam politik
akan menjadi kekuatan utama.
++++
Bila benar Khilafah adalah ide khayal, mengapa dalam
riset berskala dunia dengan melibatkan ribuan ahli dari seluruh dunia, NIC
justru memperkirakan bakal berdirinya Khilafah sebagai salah satu skenario
global pada tahun 2020? Ingat, dalam memperkirakan itu, NIC mendasarkan diri
pada data dan analisis empirik dari kecenderungan-kecenderungan global,
termasuk di dunia Muslim. Artinya, kesimpulan itu sepenuhnya berdasar pada
rasionalitas belaka, tanpa dibumbuhi dengan keyakinan atau akidah karena memang
mereka tidak mempercayai hal itu. Karena itu, bagaimana bisa HT(I) dan banyak
kelompok Islam lain yang tengah berjuang bagi tegaknya Khilafah disebut sebagai
pengkhayal?
Sebaliknya, bila NIC—yang tidak mengenal dalil-dalil
dalam al-Quran maupun hadis, juga tentu tidak percaya kepada janji Allah serta busyra
Rasulullah saw.—berpikir sangat rasional, futuristik dan antisipatif tentang
bakal berdirinya Khilafah, maka kiranya tepat orang-orang seperti Ainur Rofiq
dan siapa saja yang meragukan bakal berdirinya Khilafah disebut orang-orang
‘telmi’ (telat mikir). [Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia: HM Ismail Yusanto]
Kedua: disebut Pax Americana. Dalam skenario ini digambarkan bagaimana dominasi AS dapat terus bertahan menghadapi perubahan radikal dalam landskap politik global. Washington tetap menjadi pusat dari poros politik internasional.
Ketiga: A New Chalipate. Dalam skenario ini digambarkan bagaimana identitas global yang didorong oleh gerakan Islam radikal bisa muncul. Sebuah Khilafah baru diproklamasikan dan berhasil merebut kembali wilayah-wilayah seperti Timur Tengah, sebagian Afrika dan Asia, yang memang telah menjadi bagian dari Khilafah pada masa lalu. Khilafah juga tumbuh menjadi lawan dari ideologi yang ada.
Keempat: disebut The Cycle of Fear. Skenario ini menggambarkan tentang kekhawatiran bila proliferasi (pengayaan) WMD (weapon of mass destruction atau senjata pemusnah massal) terus meningkat. The Cycle of Fear terjadi ketika perlombaan WMD terus terjadi, dan WMD, melalui tangan dealer, jatuh ke tangan pihak-pihak yang disebut sebagai para teroris.
MGF dibuat dengan bersumber pada dua bahan utama, yakni Global Trends 2010 dan Global Trends 2015, ditambah dengan diskusi dengan banyak ahli pemerintahan dan non pemerintahan. Global Trends 2010 dibuat pada 1997 dari serangkaian konferensi yang diselenggarakan di Washington DC yang diikuti oleh sejumlah akademisi dan pengusaha serta sejumlah pakar intelijen. Global Trends 2015 merupakan studi yang mengidentifikasi 7 perubahan global penting, yakni demografi, lingkungan dan sumber daya alam, sains dan teknologi, ekonomi global dan globalisasi, tata kelola nasional dan internasional, konflik-konflik masa depan dan peran AS. Studi ini disusun pada tahun 2000 dengan melibatkan ribuan orang. Bagian awal didasarkan pada hasil diskusi antara NIC dan para ahli non pemerintah di AS. Kemudian hasilnya didiskusikan bersama para ahli dari seluruh dunia dalam serangkaian konferensi regional di 5 benua guna benar-benar mendapat perspektif tentang apa yang bakal terjadi pada 15 tahun ke depan. Kemudian pembahasan difokuskan pada kecenderungan-kecenderungan kunci (key-global trends) yang bakal berpengaruh di region tersebut. Diskusi juga diselenggarakan secara on line melalui website yang telah disiapkan.
Di antara kepastian yang dicatat oleh riset ini adalah kemunculan potensi kekuatan politik Islam serta tetap bertahannya AS sebagai kekuatan ekonomi, politik dan militer paling besar di dunia dan menguatkan kekuatan non negara. Riset juga mencatat berbagai ketidakpastian, yakni apakah negara lain akan menantang AS secara terbuka, juga sejauh mana kesediaan negara-negara untuk mengakomodasi kekuatan-kekuatan non negara itu. Adapun yang dianggap memunculkan ketidakpastian adalah dampak dari semangat religius (Islam) untuk penyatuan negara-negara, termasuk munculnya idelologi jihad.
Dalam kesimpulannya, NIC memperkirakan bahwa AS tetaplah akan menjadi kekuatan dominan yang bakal turut membentuk dunia pada masa mendatang. Namun, NIC juga memperhitungkan pengaruh Cina dan India sebagai kekuatan baru. Bila abad 20 adalah abad AS, maka abad 21 menurut mereka adalah milik Asia, khususnya Cina dan India. Kedua negara itu memiliki jumlah penduduk sangat besar dan pertumbuhan ekonomi yang terus menanjak. Di luar itu, secara khusus NIC memperkirakan bahwa Islam politik akan memberikan dampak global yang makin signifikan menjelang tahun 2020. Karena itu, NIC menyebut Islam politik akan menjadi kekuatan utama.
++++
Bila benar Khilafah adalah ide khayal, mengapa dalam riset berskala dunia dengan melibatkan ribuan ahli dari seluruh dunia, NIC justru memperkirakan bakal berdirinya Khilafah sebagai salah satu skenario global pada tahun 2020? Ingat, dalam memperkirakan itu, NIC mendasarkan diri pada data dan analisis empirik dari kecenderungan-kecenderungan global, termasuk di dunia Muslim. Artinya, kesimpulan itu sepenuhnya berdasar pada rasionalitas belaka, tanpa dibumbuhi dengan keyakinan atau akidah karena memang mereka tidak mempercayai hal itu. Karena itu, bagaimana bisa HT(I) dan banyak kelompok Islam lain yang tengah berjuang bagi tegaknya Khilafah disebut sebagai pengkhayal?
Sebaliknya, bila NIC—yang tidak mengenal dalil-dalil dalam al-Quran maupun hadis, juga tentu tidak percaya kepada janji Allah serta busyra Rasulullah saw.—berpikir sangat rasional, futuristik dan antisipatif tentang bakal berdirinya Khilafah, maka kiranya tepat orang-orang seperti Ainur Rofiq dan siapa saja yang meragukan bakal berdirinya Khilafah disebut orang-orang ‘telmi’ (telat mikir). [Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia: HM Ismail Yusanto]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar