Dalam kisah pewayangan terdapat banyak
para dewa dan dewi. Cerita pewayangan khususnya wayang purwa atau yang lebih
kita kenal dengan “wayang kulit” diambil dari cerita Ramayana dan Mahabarata yaitu
sebuah epos (cerita kepahlawanan) yang berasal dari India dan menurut ahli
sejarah cerita itu memang benar-benar terjadi pada jaman dahulu. Namun demikian
orang jawa menganggap cerita yang ada dalam pewayangan juga benar-benar terjadi
di Jawa. Bahkan, mereka juga menghubungkan kisah pewayangan dengan tarikh
kenabian. Hal ini sangat menarik bagi saya yang merupakan pecinta seni
pewayangan sejak dibangku SD (mungkin turunan dari kakek, hehehe.. J) Hasil penulusuran saya akan saya paparkan
sebagai berikut :
Dalam naskah Serat Purwakanda dikisahkan
bahwa sejarah wayang dimulai dari Nabi Adam dan Hawa sebagai utusan Tuhan Yang
Maha Esa sebagaik titah (wakil)
dialam raya. Dari keturunan kedua manusia pertama tersebut ada salah seorang
yang diberi nama Syis (Nabi Syith). Dari nabi Syis ini kemudian berputra dua
orang laki-laki. Yang pertam bernama Nabi Anwas yang kelak menurunkan
nabi-nabi dibumi. Sedangkan yang kedua bernama Nabi Anwar yang kemudian
menurunkan para dewa (Sanghyang) yang berbentuk cahaya dan hidup menempati alam
kahyangan.
Nabi Anwar merupakan cikal bakal dunia pewayangn ini
kemudian menurunkan putra bernama Sanghyang Wetri. Keturunan Sanghyang Wetri bernama Sanghyang
Nurcahya. Sanghyang nurcahya berputra Sanghyang Nurasa. Sanghyang
Nurasa memiliki putra bernama Sanghyang Wenang. Sanghyang Wenang
kemudian mewariskan takhta kahyangan kepada putranya, Sanghyang Tunggal.
gambar Sanghyang Wenang
Pernah dikisahkan Sanghyang Wenang pernah
berseteru dengan Nabi Sulaiman AS. Pada masa itu sanghyang wenang dianggap
sebagai musuh Allah yang terkutuk. Karena sanghyang wenang memiliki kekuatan
ghaib yang luar biasa sehingga orang menganggap dia sebagai Tuhan. Hal ini
sangat merisaukan Nabi Sulaiman kerena semakin lama semakin banyak yang
mempercayai Sanghyang Wenang, karena memang pada masa itu kaum nabi sulaiman
(Bani Israil) sangat menyukai hal-hal yang berhubungan dengan sihir atau hal
yang berbau ghaib lainnya. Suatu ketika
Nabi Sulaiman mengutus pasukannya untuk memerangi Sanghyang Wenang. Bala
tentara tersebut dipimpin oleh seoarang panglima dari bangsa jin bernama Jin
Syakar. Namun ketika menghadapi Sanghyang Wenang dia dikalahkan dan
tunduk kepada Sanghyang Wenang, bahkan Jin Syakar juga berkhianat kepada nabi
sulaiman. Anehnya menurut beberapa sumber yang saya baca cerita yang serupa
juga termaktub dalam tafsir Ibnu Katsir.
Alam kadewatan atau dunianya para dewa, oleh
masyarakat lampau dianggap dan diyakini sebagai makhluk suci dan terhormat
pula, karena mereka diceritakan berbadan halus (makhluk halus). Bagi masyarakat
Jawa dan wilayah Nusantara yang lain, tokoh kedewatan dipengaruhi oleh konsep
kosmologi agama yang terdahulu, seperti agama Hindu dan Budha untuk melengkapi kepercayaan animism
dan dinamisme.
Oleh karena pengaruh tersebut, dongeng tentang
kedewatan dianggap sacral dan kehidupan para dewa pun senantiasa akan
menyelaraskan diri dengan suasana alam semesta (makrokosmos) yang berpusat pada
sebuah tempat yang dianggap tinggi dan suci pula. Inilah yang tempat
bersemayamnya para Sanghyang tersebut yang dinamakan kahyangan.
Dikisahkan Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati (Dewi Wirandi) putri dari Sanghyang Rekathatama. Dari
perkawinan itu lahir sebutir telur bercahaya.
Sanghyang Tunggal dengan perasaan kesal memban ting tulang tersebut sehingga
pecah menjadi tiga bagian, yaitu cangkang, putih dan kuning telur. Ketiganya
masing-masing menjelma menjadi laki-laki. Yang berasal dari cangkang diberi
nama Antaga, sedangkan yang berasal dari putih
telur diberinama Ismaya, dan yang berasal dari kuning telur diberu nama Manikmaya.
Pada suatu hari Antaga dan Ismaya berselisih
karena masing-masing ingin menjadi pewaris takhta kahyangan. Keduanya pun
melakukan perlombaan menelan gunung (bukit). Antaga berusaha menelan gunung
tersebut dengan sekali telan justru mengalami kecelakaan. Mulutnya robek dan
matanya melebar. Ismaya menggunakan cara
lain, yaitu dengan memakan gunung tersebut sedikit demi sedikit.
Setelah melewati beberapa hari seluruh bagian
gunung pun pindah kedalam tubuh ismaya,
namun tidak berhasil ia keluarkan. Akibatnya sejak saat itu Ismaya
bertubuh bulat. Akibatnya rupa kedua dewa ini menjadi sangat buruk. Sanghyang
Tunggal murka mengetahui ambisi dan keserakahan kedua putranya. Mereka pun
dihukum menjadi pengasuh keturunan Manikmaya, yang kemudian diangkat sebgai
raja kahyangan, bergelar Batara Guru. Antaga dan Ismaya pun
turun kedunia, masing-masing memakai gelar Togog dan Semar.
gambaran perubahan batara ismaya
gambaran Togog
gambar Semar
gambar Batara Guru
Menurut catatn sejatah Babat
Tanah Jawi yang ditulis pada tahun
1647 pada masa keratin Surakarta yang dipimpin Sultan Paku Buwana III,
menyebutkan bahwa silsilah raja-raja jawa berasal dari Batara Guru. Dalam
silsilah tersebut disebutkan silsilah raja-raja jawa sejak nabi Adam. Gambaran
silsilah tersebut sebagai berikut : Nabi Adam As.- Nabi Syis- Sanghyang
Nurcahya- Sanghyang Nurasa- Wenang- Tunggal- Batara Guru- Batara Brahma-
Bambang Bremani- Bambang Parikenan-
Raden Manumayasa- Bambang Sakutrem- Bambang Sakri- Begawan Palasara- Prabu
Abiyasa- Prabu Pandudewanata- Raden Arjuna- Raden Abimanyu- Prabu Parikesit-
Prabu Yudhayana- Prabu Gendrayana- Prabu Jayabaya (Kediri)- Prabu Jaya Wijaya-
Prabu Jaya Amisena- Prabu Kusuma Wicitra- Prabu Citrasama- Prabu Pancadriya-
Prabu Suwakasela- Prabu Sri Maha Punggung- prabu kandi awam- resi gentayan ing
jenggala- prabu lembu amiluhur ing jenggala- Prabu Panji Maesatandriman Ing
Jenggala- Prabu Kuda Lalean (Segaluh)- Prabu Banjaran Sari (Pajajaran I)- Prabu
Munding Sari (Pajajaran II)- Prabu Sri Pamekas (Pajajaran IV)- Raden
Sesorah/Raden Wijaya (Majapahit I)- Prabu Handa Ningkung (Majapahit III)- Prabu
Hayam Wuruk (Majapahit IV)- Prabu Lembu Amisari (Majapahit V)- Prabu Brata
Tanjung (Majapahit VI)- Prabu Hangka Wijaya/Raden Alit (Sang Prabu Brawijaya V
raja terakhir keraton Majapahit, Sesudahnya pulau Jawa dikuasai kerajaan Demak
Bintoro (Kerajaan Islam Pertama di Jawa).
gambar naskah babat tanah jawa
Inilah hasil penelusuran yang saya dapatkan.
Terkadang memang terasa aneh, apakah ia cerita dalam pewayangan benar-benar
terjadi di Jawa ? lalu bagaimana dengan Ramayana dan Mahabarata yang ada di
India ? inilah pertanyaan yang belum berhasil saya jawab. Mungkin ini hanya
penelusaran awal mengenai hubungan pewayang, tarikh nabi dan sejarah raja-raja
Jawa. Wallahu’alam mengenai kebenaranya karena ini hanya hasil dari sebuah
penelusuran. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat…. Waslm J






Tertarik dengan cerita ini. Indonesia mempunyai peradaban tertua. Bukti ada situs padang.
BalasHapus