Read more: http://farhanshare.blogspot.com/2012/09/cara-agar-artikel-blog-tidak-bisa-di_1.html#ixzz2EdPmGijv PEJUANG DAKWAH: WAYANG DAN TARIKH KENABIAN

Senin, 10 Desember 2012

WAYANG DAN TARIKH KENABIAN


Dalam kisah pewayangan terdapat banyak para dewa dan dewi. Cerita pewayangan khususnya wayang purwa atau yang lebih kita kenal dengan “wayang kulit” diambil dari cerita Ramayana dan Mahabarata yaitu sebuah epos (cerita kepahlawanan) yang berasal dari India dan menurut ahli sejarah cerita itu memang benar-benar terjadi pada jaman dahulu. Namun demikian orang jawa menganggap cerita yang ada dalam pewayangan juga benar-benar terjadi di Jawa. Bahkan, mereka juga menghubungkan kisah pewayangan dengan tarikh kenabian. Hal ini sangat menarik bagi saya yang merupakan pecinta seni pewayangan sejak dibangku SD (mungkin turunan dari kakek, hehehe.. J) Hasil penulusuran saya akan saya paparkan sebagai berikut : 

Dalam naskah Serat Purwakanda dikisahkan bahwa sejarah wayang dimulai dari Nabi Adam dan Hawa sebagai utusan Tuhan Yang Maha Esa sebagaik titah (wakil) dialam raya. Dari keturunan kedua manusia pertama tersebut ada salah seorang yang diberi nama Syis (Nabi Syith). Dari nabi Syis ini kemudian berputra dua orang laki-laki. Yang pertam bernama Nabi Anwas yang kelak menurunkan nabi-nabi dibumi. Sedangkan yang kedua bernama Nabi Anwar yang kemudian menurunkan para dewa (Sanghyang) yang berbentuk cahaya dan hidup menempati alam kahyangan.
Nabi Anwar merupakan cikal bakal dunia pewayangn ini kemudian menurunkan putra bernama Sanghyang Wetri. Keturunan Sanghyang Wetri bernama Sanghyang Nurcahya. Sanghyang nurcahya berputra Sanghyang Nurasa. Sanghyang Nurasa memiliki putra bernama Sanghyang Wenang. Sanghyang Wenang kemudian mewariskan takhta kahyangan kepada putranya, Sanghyang Tunggal. 
 gambar Sanghyang Wenang

Pernah dikisahkan Sanghyang Wenang pernah berseteru dengan Nabi Sulaiman AS. Pada masa itu sanghyang wenang dianggap sebagai musuh Allah yang terkutuk. Karena sanghyang wenang memiliki kekuatan ghaib yang luar biasa sehingga orang menganggap dia sebagai Tuhan. Hal ini sangat merisaukan Nabi Sulaiman kerena semakin lama semakin banyak yang mempercayai Sanghyang Wenang, karena memang pada masa itu kaum nabi sulaiman (Bani Israil) sangat menyukai hal-hal yang berhubungan dengan sihir atau hal yang  berbau ghaib lainnya. Suatu ketika Nabi Sulaiman mengutus pasukannya untuk memerangi Sanghyang Wenang. Bala tentara tersebut dipimpin oleh seoarang panglima dari bangsa jin bernama Jin Syakar. Namun ketika menghadapi Sanghyang Wenang dia dikalahkan dan tunduk kepada Sanghyang Wenang, bahkan Jin Syakar juga berkhianat kepada nabi sulaiman. Anehnya menurut beberapa sumber yang saya baca cerita yang serupa juga termaktub dalam tafsir Ibnu Katsir.
Alam kadewatan atau dunianya para dewa, oleh masyarakat lampau dianggap dan diyakini sebagai makhluk suci dan terhormat pula, karena mereka diceritakan berbadan halus (makhluk halus). Bagi masyarakat Jawa dan wilayah Nusantara yang lain, tokoh kedewatan dipengaruhi oleh konsep kosmologi agama yang terdahulu, seperti agama Hindu dan  Budha untuk melengkapi kepercayaan animism dan dinamisme.
Oleh karena pengaruh tersebut, dongeng tentang kedewatan dianggap sacral dan kehidupan para dewa pun senantiasa akan menyelaraskan diri dengan suasana alam semesta (makrokosmos) yang berpusat pada sebuah tempat yang dianggap tinggi dan suci pula. Inilah yang tempat bersemayamnya para Sanghyang tersebut yang dinamakan kahyangan.
Dikisahkan Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati (Dewi Wirandi)  putri dari Sanghyang Rekathatama. Dari perkawinan itu lahir sebutir telur bercahaya.  Sanghyang Tunggal dengan perasaan kesal memban ting tulang tersebut sehingga pecah menjadi tiga bagian, yaitu cangkang, putih dan kuning telur. Ketiganya masing-masing menjelma menjadi laki-laki. Yang berasal dari cangkang diberi nama Antaga,  sedangkan yang berasal dari putih telur diberinama Ismaya, dan yang berasal dari kuning telur diberu nama  Manikmaya.

Pada suatu hari Antaga dan Ismaya berselisih karena masing-masing ingin menjadi pewaris takhta kahyangan. Keduanya pun melakukan perlombaan menelan gunung (bukit). Antaga berusaha menelan gunung tersebut dengan sekali telan justru mengalami kecelakaan. Mulutnya robek dan matanya melebar.  Ismaya menggunakan cara lain, yaitu dengan memakan gunung tersebut sedikit demi sedikit.

Setelah melewati beberapa hari seluruh bagian gunung pun pindah kedalam tubuh ismaya,  namun tidak berhasil ia keluarkan. Akibatnya sejak saat itu Ismaya bertubuh bulat. Akibatnya rupa kedua dewa ini menjadi sangat buruk. Sanghyang Tunggal murka mengetahui ambisi dan keserakahan kedua putranya. Mereka pun dihukum menjadi pengasuh keturunan Manikmaya, yang kemudian diangkat sebgai raja kahyangan, bergelar Batara Guru. Antaga dan Ismaya pun turun kedunia, masing-masing memakai gelar Togog dan Semar.

 
gambaran perubahan batara ismaya 
gambaran Togog

gambar Semar  

gambar Batara Guru


Menurut catatn sejatah  Babat Tanah Jawi  yang ditulis pada tahun 1647 pada masa keratin Surakarta yang dipimpin Sultan Paku Buwana III, menyebutkan bahwa silsilah raja-raja jawa berasal dari Batara Guru. Dalam silsilah tersebut disebutkan silsilah raja-raja jawa sejak nabi Adam. Gambaran silsilah tersebut sebagai berikut : Nabi Adam As.- Nabi Syis- Sanghyang Nurcahya- Sanghyang Nurasa- Wenang- Tunggal- Batara Guru- Batara Brahma- Bambang Bremani- Bambang  Parikenan- Raden Manumayasa- Bambang Sakutrem- Bambang Sakri- Begawan Palasara- Prabu Abiyasa- Prabu Pandudewanata- Raden Arjuna- Raden Abimanyu- Prabu Parikesit- Prabu Yudhayana- Prabu Gendrayana- Prabu Jayabaya (Kediri)- Prabu Jaya Wijaya- Prabu Jaya Amisena- Prabu Kusuma Wicitra- Prabu Citrasama- Prabu Pancadriya- Prabu Suwakasela- Prabu Sri Maha Punggung- prabu kandi awam- resi gentayan ing jenggala- prabu lembu amiluhur ing jenggala- Prabu Panji Maesatandriman Ing Jenggala- Prabu Kuda Lalean (Segaluh)- Prabu Banjaran Sari (Pajajaran I)- Prabu Munding Sari (Pajajaran II)- Prabu Sri Pamekas (Pajajaran IV)- Raden Sesorah/Raden Wijaya (Majapahit I)- Prabu Handa Ningkung (Majapahit III)- Prabu Hayam Wuruk (Majapahit IV)- Prabu Lembu Amisari (Majapahit V)- Prabu Brata Tanjung (Majapahit VI)- Prabu Hangka Wijaya/Raden Alit (Sang Prabu Brawijaya V raja terakhir keraton Majapahit, Sesudahnya pulau Jawa dikuasai kerajaan Demak Bintoro (Kerajaan Islam Pertama di Jawa).    
 
gambar naskah babat tanah jawa
  Inilah hasil penelusuran yang saya dapatkan. Terkadang memang terasa aneh, apakah ia cerita dalam pewayangan benar-benar terjadi di Jawa ? lalu bagaimana dengan Ramayana dan Mahabarata yang ada di India ? inilah pertanyaan yang belum berhasil saya jawab. Mungkin ini hanya penelusaran awal mengenai hubungan pewayang, tarikh nabi dan sejarah raja-raja Jawa. Wallahu’alam mengenai kebenaranya karena ini hanya hasil dari sebuah penelusuran. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat…. Waslm J
 



1 komentar:

  1. Tertarik dengan cerita ini. Indonesia mempunyai peradaban tertua. Bukti ada situs padang.

    BalasHapus