Read more: http://farhanshare.blogspot.com/2012/09/cara-agar-artikel-blog-tidak-bisa-di_1.html#ixzz2EdPmGijv PEJUANG DAKWAH: 2012

Minggu, 16 Desember 2012

AGAR TULISAN TIDAK DI COPYPASTE


Salam Teman-teman…..  saya akan berbagi kekalian mengenai blog. Istilah blog tentunya sudah tidak asing lagi bagi kita. Bagi para blogger terkadang kita menginginkan agar tulisan kita tidak dapat begitu saja di COPAS alias Copypaste. COPAS terkadang  sangat merugikan para  blogger maupun webmaster yang sudah bersusah payah untuk membuat suatu artikel dengan mengeluarkan pikiran dan tenaga yang cukup besar lalu di COPAS begitu saja… sayang bukan…?  Lalu bagaimana yah agar tulisan kita tidak di COPAS..
Ok saya akan berbagi kepada kalian agar tulisan kita tidak ingin di COPAS.. begini caranya… :
1.     Login ke Blogger.
2.   Pilih Template/Rancangan.
3.   Klik "Edit HTML".
4.   Centang box "Expand Template Widget".
5.   Cari kode <head> menggunakan CTRL+F.
  1. lalu letakkan kode di bawah ini persis di atas kode  <head>.                                                              
 <SCRIPT type="text/javascript">
    if (typeof document.onselectstart!="undefined") {
    document.onselectstart=new Function ("return false");
    }
    else{
    document.onmousedown=new Function ("return false");
    document.onmouseup=new Function ("return true");
    }
    </SCRIPT> 
7.   Klik "Save Template" dan Selesai.
Ok semoga berhasil yaa… mudah-mudahan bermanfaat..

Untuk dapat info yang lebih lanjut saya menyarankan teman-teman untuk mengunjungi alamat ini 
http://farhanshare.blogspot.com/2012/09/cara-agar-artikel-blog-tidak-bisa-di_1.html#ixzz2EdOam96C

Senin, 10 Desember 2012

WAYANG DAN TARIKH KENABIAN


Dalam kisah pewayangan terdapat banyak para dewa dan dewi. Cerita pewayangan khususnya wayang purwa atau yang lebih kita kenal dengan “wayang kulit” diambil dari cerita Ramayana dan Mahabarata yaitu sebuah epos (cerita kepahlawanan) yang berasal dari India dan menurut ahli sejarah cerita itu memang benar-benar terjadi pada jaman dahulu. Namun demikian orang jawa menganggap cerita yang ada dalam pewayangan juga benar-benar terjadi di Jawa. Bahkan, mereka juga menghubungkan kisah pewayangan dengan tarikh kenabian. Hal ini sangat menarik bagi saya yang merupakan pecinta seni pewayangan sejak dibangku SD (mungkin turunan dari kakek, hehehe.. J) Hasil penulusuran saya akan saya paparkan sebagai berikut : 

Dalam naskah Serat Purwakanda dikisahkan bahwa sejarah wayang dimulai dari Nabi Adam dan Hawa sebagai utusan Tuhan Yang Maha Esa sebagaik titah (wakil) dialam raya. Dari keturunan kedua manusia pertama tersebut ada salah seorang yang diberi nama Syis (Nabi Syith). Dari nabi Syis ini kemudian berputra dua orang laki-laki. Yang pertam bernama Nabi Anwas yang kelak menurunkan nabi-nabi dibumi. Sedangkan yang kedua bernama Nabi Anwar yang kemudian menurunkan para dewa (Sanghyang) yang berbentuk cahaya dan hidup menempati alam kahyangan.
Nabi Anwar merupakan cikal bakal dunia pewayangn ini kemudian menurunkan putra bernama Sanghyang Wetri. Keturunan Sanghyang Wetri bernama Sanghyang Nurcahya. Sanghyang nurcahya berputra Sanghyang Nurasa. Sanghyang Nurasa memiliki putra bernama Sanghyang Wenang. Sanghyang Wenang kemudian mewariskan takhta kahyangan kepada putranya, Sanghyang Tunggal. 
 gambar Sanghyang Wenang

Pernah dikisahkan Sanghyang Wenang pernah berseteru dengan Nabi Sulaiman AS. Pada masa itu sanghyang wenang dianggap sebagai musuh Allah yang terkutuk. Karena sanghyang wenang memiliki kekuatan ghaib yang luar biasa sehingga orang menganggap dia sebagai Tuhan. Hal ini sangat merisaukan Nabi Sulaiman kerena semakin lama semakin banyak yang mempercayai Sanghyang Wenang, karena memang pada masa itu kaum nabi sulaiman (Bani Israil) sangat menyukai hal-hal yang berhubungan dengan sihir atau hal yang  berbau ghaib lainnya. Suatu ketika Nabi Sulaiman mengutus pasukannya untuk memerangi Sanghyang Wenang. Bala tentara tersebut dipimpin oleh seoarang panglima dari bangsa jin bernama Jin Syakar. Namun ketika menghadapi Sanghyang Wenang dia dikalahkan dan tunduk kepada Sanghyang Wenang, bahkan Jin Syakar juga berkhianat kepada nabi sulaiman. Anehnya menurut beberapa sumber yang saya baca cerita yang serupa juga termaktub dalam tafsir Ibnu Katsir.
Alam kadewatan atau dunianya para dewa, oleh masyarakat lampau dianggap dan diyakini sebagai makhluk suci dan terhormat pula, karena mereka diceritakan berbadan halus (makhluk halus). Bagi masyarakat Jawa dan wilayah Nusantara yang lain, tokoh kedewatan dipengaruhi oleh konsep kosmologi agama yang terdahulu, seperti agama Hindu dan  Budha untuk melengkapi kepercayaan animism dan dinamisme.
Oleh karena pengaruh tersebut, dongeng tentang kedewatan dianggap sacral dan kehidupan para dewa pun senantiasa akan menyelaraskan diri dengan suasana alam semesta (makrokosmos) yang berpusat pada sebuah tempat yang dianggap tinggi dan suci pula. Inilah yang tempat bersemayamnya para Sanghyang tersebut yang dinamakan kahyangan.
Dikisahkan Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati (Dewi Wirandi)  putri dari Sanghyang Rekathatama. Dari perkawinan itu lahir sebutir telur bercahaya.  Sanghyang Tunggal dengan perasaan kesal memban ting tulang tersebut sehingga pecah menjadi tiga bagian, yaitu cangkang, putih dan kuning telur. Ketiganya masing-masing menjelma menjadi laki-laki. Yang berasal dari cangkang diberi nama Antaga,  sedangkan yang berasal dari putih telur diberinama Ismaya, dan yang berasal dari kuning telur diberu nama  Manikmaya.

Pada suatu hari Antaga dan Ismaya berselisih karena masing-masing ingin menjadi pewaris takhta kahyangan. Keduanya pun melakukan perlombaan menelan gunung (bukit). Antaga berusaha menelan gunung tersebut dengan sekali telan justru mengalami kecelakaan. Mulutnya robek dan matanya melebar.  Ismaya menggunakan cara lain, yaitu dengan memakan gunung tersebut sedikit demi sedikit.

Setelah melewati beberapa hari seluruh bagian gunung pun pindah kedalam tubuh ismaya,  namun tidak berhasil ia keluarkan. Akibatnya sejak saat itu Ismaya bertubuh bulat. Akibatnya rupa kedua dewa ini menjadi sangat buruk. Sanghyang Tunggal murka mengetahui ambisi dan keserakahan kedua putranya. Mereka pun dihukum menjadi pengasuh keturunan Manikmaya, yang kemudian diangkat sebgai raja kahyangan, bergelar Batara Guru. Antaga dan Ismaya pun turun kedunia, masing-masing memakai gelar Togog dan Semar.

 
gambaran perubahan batara ismaya 
gambaran Togog

gambar Semar  

gambar Batara Guru


Menurut catatn sejatah  Babat Tanah Jawi  yang ditulis pada tahun 1647 pada masa keratin Surakarta yang dipimpin Sultan Paku Buwana III, menyebutkan bahwa silsilah raja-raja jawa berasal dari Batara Guru. Dalam silsilah tersebut disebutkan silsilah raja-raja jawa sejak nabi Adam. Gambaran silsilah tersebut sebagai berikut : Nabi Adam As.- Nabi Syis- Sanghyang Nurcahya- Sanghyang Nurasa- Wenang- Tunggal- Batara Guru- Batara Brahma- Bambang Bremani- Bambang  Parikenan- Raden Manumayasa- Bambang Sakutrem- Bambang Sakri- Begawan Palasara- Prabu Abiyasa- Prabu Pandudewanata- Raden Arjuna- Raden Abimanyu- Prabu Parikesit- Prabu Yudhayana- Prabu Gendrayana- Prabu Jayabaya (Kediri)- Prabu Jaya Wijaya- Prabu Jaya Amisena- Prabu Kusuma Wicitra- Prabu Citrasama- Prabu Pancadriya- Prabu Suwakasela- Prabu Sri Maha Punggung- prabu kandi awam- resi gentayan ing jenggala- prabu lembu amiluhur ing jenggala- Prabu Panji Maesatandriman Ing Jenggala- Prabu Kuda Lalean (Segaluh)- Prabu Banjaran Sari (Pajajaran I)- Prabu Munding Sari (Pajajaran II)- Prabu Sri Pamekas (Pajajaran IV)- Raden Sesorah/Raden Wijaya (Majapahit I)- Prabu Handa Ningkung (Majapahit III)- Prabu Hayam Wuruk (Majapahit IV)- Prabu Lembu Amisari (Majapahit V)- Prabu Brata Tanjung (Majapahit VI)- Prabu Hangka Wijaya/Raden Alit (Sang Prabu Brawijaya V raja terakhir keraton Majapahit, Sesudahnya pulau Jawa dikuasai kerajaan Demak Bintoro (Kerajaan Islam Pertama di Jawa).    
 
gambar naskah babat tanah jawa
  Inilah hasil penelusuran yang saya dapatkan. Terkadang memang terasa aneh, apakah ia cerita dalam pewayangan benar-benar terjadi di Jawa ? lalu bagaimana dengan Ramayana dan Mahabarata yang ada di India ? inilah pertanyaan yang belum berhasil saya jawab. Mungkin ini hanya penelusaran awal mengenai hubungan pewayang, tarikh nabi dan sejarah raja-raja Jawa. Wallahu’alam mengenai kebenaranya karena ini hanya hasil dari sebuah penelusuran. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat…. Waslm J
 



Minggu, 09 Desember 2012

Maaf Lamaran mu Aku Tolak

:: Maaf Lamaran mu Aku Tolak ::

Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen
dengan agamanya. Melalui ta’aruf yang singkat dan hikmat, mereka
memutuskan untuk melanjutkannya menuju khitbah.



Sang lelaki, sendiri,
harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang perempuan.

Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah
melewati deru pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi
pertempuran yang sekarang amatlah berbeda. Sang perempuan, tentu saja
siap membantunya. Memuluskan langkah mereka menggenapkan agamanya. Maka,
di suatu pagi, di
sebuah rumah, di sebuah ruang tamu, seorang lelaki
muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk ‘merebut’ sang
perempuan muda, dari sisinya.

“Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?”
tanya sang setengah baya.

“Iya, Pak,” jawab sang muda.

“Engkau telah mengenalnya dalam-dalam? ” tanya sang
setengah baya sambil menunjuk si perempuan.

“Ya Pak, sangat mengenalnya,
” jawab sang muda, mencoba meyakinkan.

“Lamaranmu kutolak. Berarti engkau telah memacarinya
sebelumnya? Tidak bisa. Aku tidak bisa mengijinkan pernikahan yang
diawali dengan model seperti itu!” balas sang setengah baya.

Si pemuda tergagap, “Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu.”

“Lamaranmu kutolak. Itu serasa ‘membeli kucing dalam
karung’ kan, aku tak mau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak
mengenalnya. Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?” balas sang
setengah baya, keras.

Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang lelaki muda.

Bisiknya, “Ayah, dia dulu aktivis lho.”

“Kamu dulu aktivis ya?” tanya sang setengah baya.

“Ya
Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di Kampus,”
jawab sang muda, percaya diri.

“Lamaranmu kutolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan
marah sama istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk
mendemo rumahku ini kan?”

“Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga
cuma kecil-kecilan. Banyak yang nggak datang kalau saya suruh
berangkat.”

“Lamaranmu kutolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok mau ngatur keluargamu?”

Sang perempuan membisik lagi, membantu, “Ayah, dia pinter lho.”

“Kamu lulusan mana?”

“Saya lulusan Teknik Elektro UGM Pak. UGM itu salah satu kampus terbaik di Indonesia lho Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM ini tho? Menganggap saya bodoh kan?”

“Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya saja tujuh tahun, IPnya juga cuma dua koma Pak.”

“Lha lamaranmu ya kutolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik anak-anakmu kelak?”

Bisikan itu datang lagi, “Ayah dia sudah bekerja
lho.”

“Jadi kamu sudah bekerja?”

“Iya Pak. Saya bekerja sebagai
marketing. Keliling Jawa dan Sumatera jualan produk saya Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu
nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu.”

“Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak terlalu laku.”

“Lamaranmu tetap kutolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu, kalau kerja saja nggak becus begitu?”

Bisikan kembali, “Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya.”

“Rencananya maharmu apa?”

“Seperangkat alat shalat Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf.”

“Tapi saya siapkan juga emas seratus gram dan uang limapuluh juta Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kau pikir aku itu matre, dan menukar anakku dengan uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku.”

Bisikan, “Dia jago IT lho Pak”

“Kamu bisa apa itu, internet?”

“Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak saya nge-net.”

“Lamaranmu kutolak. Nanti kamu cuma nge-net thok.
Menghabiskan anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di
dunia nyata.”

“Tapi saya ngenet cuma ngecek imel saja kok Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Jadi kamu nggak ngerti Blog, Twitter, Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu.”

Bisikan, “Tapi Ayah…”

“Kamu kesini tadi naik apa?”

“Mobil Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kamu mau pamer tho kalau kamu
kaya. Itu namanya Riya’. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan
makin naik.”

“Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir”

“Lamaranmu kutolak. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini namanya payah. Memangnya anakku supir?”

Bisikan, “Ayahh..”

“Kamu merasa ganteng ya?”

“Nggak Pak. Biasa saja kok”

“Lamaranmu kutolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang
cantik ini.”

“Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir
kok Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!”

Sang perempuan kini berkaca-kaca, “Ayah, tak bisakah engkau tanyakan soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?”

Sang setengah baya menatap wajah sang anak, dan berganti menatap sang muda yang sudah menyerah pasrah.

“Nak, apa adakah yang engkau hapal dari Al Qur’an dan Hadits?”

Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya
sesuatu yang berharga. Pun pada pokok soal ini ia menyerah, jawabnya,
“Pak, dari tiga puluh juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang
pendek-pendek saja. Hadits-pun cuma dari Arba’in yang terpendek pula.”

Sang setengah baya tersenyum, “Lamaranmu kuterima
anak muda. Itu cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja,
membacanya saja pun, aku masih tertatih.”

Mata sang muda pun ikut berkaca-kaca.
dan akhirnya mereka pun menikah
 ♥
http://dakwahforislam.blogspot.com/2012/10/maaf-lamaran-mu-aku-tolak.html

Minggu, 23 September 2012

Nasihat untuk remaja

Kami persembahkan nasehat ini untuk saudara-saudara kami terkhusus para pemuda dan remaja muslim. Mudah-mudahan nasehat ini dapat membuka mata hati mereka sehingga mereka lebih tahu tentang siapa dirinya sebenarnya, apa kewajiban yang harus mereka tunaikan sebagai seorang muslim, agar mereka merasa bahwa masa muda ini tidak sepantasnya untuk diisi dengan perkara yang bisa melalaikan mereka dari mengingat Allah subhanahu wata’ala sebagai penciptanya, agar mereka tidak terus-menerus bergelimang ke dalam kehidupan dunia yang fana dan lupa akan negeri akhirat yang kekal abadi.

Wahai para pemuda muslim, tidakkah kalian menginginkan kehidupan yang bahagia selamanya? Tidakkah kalian menginginkan jannah (surga) Allah subhanahu wata’ala yang luasnya seluas langit dan bumi?
Ketahuilah, jannah Allah subhanahu wata’ala itu diraih dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam beramal. Jannah itu disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa yang mereka tahu bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, mereka merasa bahwa gemerlapnya kehidupan dunia ini akan menipu umat manusia dan menyeret mereka kepada kehidupan yang sengsara di negeri akhirat selamanya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Ali ‘Imran: 185)

Untuk Apa Kita Hidup di Dunia?
Wahai para pemuda, ketahuilah, sungguh Allah subhanahu wata’ala telah menciptakan kita bukan tanpa adanya tujuan. Bukan pula memberikan kita kesempatan untuk bersenang-senang saja, tetapi untuk meraih sebuah tujuan mulia.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)

Beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Itulah tugas utama yang harus dijalankan oleh setiap hamba Allah.
Dalam beribadah, kita dituntut untuk ikhlas dalam menjalankannya. Yaitu dengan beribadah semata-mata hanya mengharapkan ridha dan pahala dari Allah subhanahu wata’ala. Jangan beribadah karena terpaksa, atau karena gengsi terhadap orang-orang di sekitar kita. Apalagi beribadah dalam rangka agar dikatakan bahwa kita adalah orang-orang yang alim, kita adalah orang-orang shalih atau bentuk pujian dan sanjungan yang lain.

Umurmu Tidak Akan Lama Lagi
Wahai para pemuda, jangan sekali-kali terlintas di benak kalian: beribadah nanti saja kalau sudah tua, atau mumpung masih muda, gunakan untuk foya-foya. Ketahuilah, itu semua merupakan rayuan setan yang mengajak kita untuk menjadi teman mereka di An Nar (neraka).

Tahukah kalian, kapan kalian akan dipanggil oleh Allah subhanahu wata’ala, berapa lama lagi kalian akan hidup di dunia ini? Jawabannya adalah sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)

Wahai para pemuda, bertaqwalah kalian kepada Allah subhanahu wata’ala. Mungkin hari ini kalian sedang berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang tertawa, berpesta, dan hura-hura menyambut tahun baru dengan berbagai bentuk maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, tetapi keesokan harinya kalian sudah berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang menangis menyaksikan jasad-jasad kalian dimasukkan ke liang lahad (kubur) yang sempit dan menyesakkan.

Betapa celaka dan ruginya kita, apabila kita belum sempat beramal shalih. Padahal, pada saat itu amalan diri kita sajalah yang akan menjadi pendamping kita ketika menghadap Allah subhanahu wata’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ, فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ, يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ.
“Yang mengiringi jenazah itu ada tiga: keluarganya, hartanya, dan amalannya. Dua dari tiga hal tersebut akan kembali dan tinggal satu saja (yang mengiringinya), keluarga dan hartanya akan kembali, dan tinggal amalannya (yang akan mengiringinya).” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Wahai para pemuda, takutlah kalian kepada adzab Allah subhanahu wata’ala. Sudah siapkah kalian dengan timbangan amal yang pasti akan kalian hadapi nanti. Sudah cukupkah amal yang kalian lakukan selama ini untuk menambah berat timbangan amal kebaikan.
Betapa sengsaranya kita, ketika ternyata bobot timbangan kebaikan kita lebih ringan daripada timbangan kejelekan. Ingatlah akan firman Allah subhanahu wata’ala:

فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ نَارٌ حَامِيَةٌ
“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (Al Qari’ah: 6-11)

Bersegeralah dalam Beramal
Wahai para pemuda, bersegeralah untuk beramal kebajikan, dirikanlah shalat dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena shalat adalah yang pertama kali akan dihisab nanti pada hari kiamat, sebagaimana sabdanya:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلاَةُ

“Sesungguhnya amalan yang pertama kali manusia dihisab dengannya di hari kiamat adalah shalat.” (HR. At Tirmidzi, An Nasa`i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad. Lafazh hadits riwayat Abu Dawud no.733)
 
Bagi laki-laki, hendaknya dengan berjama’ah di masjid. Banyaklah berdzikir dan mengingat Allah subhanahu wata’ala. Bacalah Al Qur’an, karena sesungguhnya ia akan memberikan syafaat bagi pembacanya pada hari kiamat nanti.

Banyaklah bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala. Betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang telah kalian lakukan selama ini. Mudah-mudahan dengan bertaubat, Allah subhanahu wata’ala akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memberi pahala yang dengannya kalian akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

Wahai para pemuda, banyak-banyaklah beramal shalih, pasti Allah subhanahu wata’ala akan memberi kalian kehidupan yang bahagia, dunia dan akhirat. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (An Nahl: 97)

Engkau Habiskan untuk Apa Masa Mudamu?
Pertanyaan inilah yang akan diajukan kepada setiap hamba Allah subhanahu wata’ala pada hari kiamat nanti. Sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu haditsnya:
لاَ تَزُوْلُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ : عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ.
“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi no. 2340)

Sekarang cobalah mengoreksi diri kalian sendiri, sudahkah kalian mengisi masa muda kalian untuk hal-hal yang bermanfaat yang mendatangkan keridhaan Allah subhanahu wata’ala? Ataukah kalian isi masa muda kalian dengan perbuatan maksiat yang mendatangkan kemurkaan-Nya?
Kalau kalian masih saja mengisi waktu muda kalian untuk bersenang-senang dan lupa kepada Allah subhanahu wata’ala, maka jawaban apa yang bisa kalian ucapkan di hadapan Allah subhanahu wata’ala Sang Penguasa Hari Pembalasan? Tidakkah kalian takut akan ancaman Allah subhanahu wata’ala terhadap orang yang banyak berbuat dosa dan maksiat? Padahal Allah subhanahu wata’ala telah mengancam pelaku kejahatan dalam firman-Nya:
مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (An Nisa’: 123)

Bukanlah masa tua yang akan ditanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, pergunakanlah kesempatan di masa muda kalian ini untuk kebaikan.
Ingat-ingatlah selalu bahwa setiap amal yang kalian lakukan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah subhanahu wata’ala.

Jauhi Perbuatan Maksiat
Apa yang menyebabkan Adam dan Hawwa dikeluarkan dari Al Jannah (surga)? Tidak lain adalah kemaksiatan mereka berdua kepada Allah subhanahu wata’ala. Mereka melanggar larangan Allah subhanahu wata’ala karena mendekati sebuah pohon di Al Jannah, mereka terbujuk oleh rayuan iblis yang mengajak mereka untuk bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala.
Wahai para pemuda, senantiasa iblis, setan, dan bala tentaranya berupaya untuk mengajak umat manusia seluruhnya agar mereka bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, mereka mengajak umat manusia seluruhnya untuk menjadi temannya di neraka. Sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala jelaskan dalam firman-Nya (yang artinya):

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)

Setiap amalan kejelekan dan maksiat yang engkau lakukan, walaupun kecil pasti akan dicatat dan diperhitungkan di sisi Allah subhanahu wata’ala. Pasti engkau akan melihat akibat buruk dari apa yang telah engkau lakukan itu. Allah subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya):
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Az Zalzalah: 8)

Setan juga menghendaki dengan kemaksiatan ini, umat manusia menjadi terpecah belah dan saling bermusuhan. Jangan dikira bahwa ketika engkau bersama teman-temanmu melakukan kemaksiatan kepada Allah subhanahu wata’ala, itu merupakan wujud solidaritas dan kekompakan di antara kalian. Sekali-kali tidak, justru cepat atau lambat, teman yang engkau cintai menjadi musuh yang paling engkau benci. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ
“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu karena (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu).” (Al Maidah: 91)

Demikianlah setan menjadikan perbuatan maksiat yang dilakukan manusia sebagai sarana untuk memecah belah dan menimbulkan permusuhan di antara mereka.
Ibadah yang Benar Dibangun di atas Ilmu

Wahai para pemuda, setelah kalian mengetahui bahwa tugas utama kalian hidup di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala semata, maka sekarang ketahuilah bahwa Allah subhanahu wata’ala hanya menerima amalan ibadah yang dikerjakan dengan benar. Untuk itulah wajib atas kalian untuk belajar dan menuntut ilmu agama, mengenal Allah subhanahu wata’ala, mengenal Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mengenal agama Islam ini, mengenal mana yang halal dan mana yang haram, mana yang haq (benar) dan mana yang bathil (salah), serta mana yang sunnah dan mana yang bid’ah.

Dengan ilmu agama, kalian akan terbimbing dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala, sehingga ibadah yang kalian lakukan benar-benar diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala. Betapa banyak orang yang beramal kebajikan tetapi ternyata amalannya tidak diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala, karena amalannya tidak dibangun di atas ilmu agama yang benar.

Oleh karena itu, wahai para pemuda muslim, pada kesempatan ini, kami juga menasehatkan kepada kalian untuk banyak mempelajari ilmu agama, duduk di majelis-majelis ilmu, mendengarkan Al Qur’an dan hadits serta nasehat dan penjelasan para ulama. Jangan sibukkan diri kalian dengan hal-hal yang kurang bermanfaat bagi diri kalian, terlebih lagi hal-hal yang mendatangkan murka Allah subhanahu wata’ala.
Ketahuilah, menuntut ilmu agama merupakan kewajiban bagi setiap muslim, maka barangsiapa yang meninggalkannya dia akan mendapatkan dosa, dan setiap dosa pasti akan menyebabkan kecelakaan bagi pelakunya.
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.
“Menuntut ilmu agama itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no.224)

Akhir Kata
Semoga nasehat yang sedikit ini bisa memberikan manfaat yang banyak kepada kita semua. Sesungguhnya nasehat itu merupakan perkara yang sangat penting dalam agama ini, bahkan saling memberikan nasehat merupakan salah satu sifat orang-orang yang dijauhkan dari kerugian, sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala firmankan dalam surat Al ‘Ashr:
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat- menasehati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)
Wallahu ta‘ala a’lam bishshowab.
sumber :http://dakwahforislam.blogspot.com/2012/07/kami-persembahkan-nasehat-ini-untuk.html